Technopreneurship
A. Sejarah Program Aplikasi Berbasis Technopreneurship
Terkait sejarah awalnya sendiri istilah technopreneurship ini diciptakan dari kata technology dan enterpreneur atau teknologi dan kewirausahaan. Ini pertama kali digunakan pada tahun 1987, pada saat itu, penggunaan kata technopreneurship mendapat poularitas yang terbesar karena penggunaan internet yang luas selama milenium kedua hingga sekarang ini di tahun 2020. Semenjak teknologi internet sudah mulai merambak ke plosok plosok negara. Ditenbah lagi dengan eksisnya perusahaan-perusahaan Information Technology (IT) raksasa seperti meicrosoft, yahoo, google, apple dan sebagainya yang incom perusahaannya mencapai milyaran dolar perbulan. Hingga muncul seseorang technopreneur sejati bernaa bill gates sebagai orang terkaya nomer satu di dunia versi majalah forbes.
Amerika serikat merupakan negara yang berperan pentingdalam sejarah technoreneurship dunia. Sillicon Valley, lembah yang terletak di negara bagian california, AS, menyimpan banyak cerita sukses tentang technopreneurship. Budaya inovasi dan technopreneurship yang berkembang dilembah ynag menjadi markas bagi kampus-kampus ternama dan perusahaan teknologi kelas dunia itu tak hanya menginspirasi anak anak muda di negeri paman sam, tetapi juga anak anak muda di seluruh dunia. Memiliki basis sendiri sudah menjadi sebuah “american dream” mimpi orang amerika. Belum lama ini, perusahaan sofware intuit mengumumkan hasil studinya. Pada tahun 2020, lebih dari 40 persen tenaga produktif di As atau sekitar 60 juta orang akan bekerja sendiri.[1]
B. Pengertian, Tips Dan Contoh Technopreneurship
1. Pengertian
Secara bahasa teknopreneur adalah penguaha teknologi, wirausaha teknologi, webster dictionary mendefinisikan technopreneur sebagai seorang enterpreneur yang melibatkan teknologi tinggi dalam bisnisnya. Enterpreneur adalah pengusaha atau wiraswasta yaitu orang yang memiliki usaha sendiri dan mengelola usahannya sendiri dengan ide atau konsep yang baru. Menurut S. Goodman dkk, dalam fresh prespective: business management (2005) technopreneur adalah pengusaha yang menggabungkan ketrampilan teknologi dan kewirausahaan mereka. [2]Technopreneurship adalah sebuah wirausaha/inkubator bisnis berbasis teknologi, model materi ini merupakan strategi trobosan baru untuk mensiasati masalah pengangguran intelektual yang semakin meningkat. Inkubaktor bisnis merupakan wadah atau tempat mahasiswa dan pekerja belajar membuar peruahaan, disana mereka dapat belajar, membuat jaringan dan alat untuk membuat kesuksesan usaha. Inkubaktor bisnis sendiri di definsikan sebagai “program dukungan bisnis untuk menjadi lebih cepat mencapai kesuksesan” tujuan dari inkubaktor bisnis adalah melahirkan perusahaan sukses yang dapat meninggalkan program bantuan keuangan dan mampu berdiri sendiri, lulusan incubaktor bisnis akan melahirkan wirausahawan yang mempu menciptakan lapangan kerja, mengkomersialisasikan teknologi dan penguatan ekonomi local dan nasional[3]
2. Tips
Founder hero soft media, hero wijayadi, dalam sebuah seminar tentang ceativepreneur di yogyakarta memberikan kunci 3P+2P yang harus dimiliki di awal pengembangan usaha berbasis technopreneur, yaitu place, program, dan people. “place berarti wadah untuk membangun usaha. Jadi bukan dimaknai dengan tamat saja. Program, kita harus merencanakan program ke depannya. Dan yang paling penting adalah people. Untuk membangun bisnis berbasis teknologi, kita butuh minimal 3 orang, yakni hacker, hipster, dan hustler,”
a.) Hacker adalah seseorang yang memiliki keahlian dalam koding, programmer, dan web developer
b.) Hipster adalah seorang desainer, dan aktif di media sosial
c.) Hustler adalah seorang yang memiliki tipikal komunikatif, suka membangun jaringan, kerjasama dan berjualan
Setelah 3P terpenuhi, baru 2P yaitu problem dan product. Kita menganalisis apa masalah yang ada disekitar kita dan apa peluang yang bisa kita ciptakan dari masalah tersebut. Karena setiap masalah pasti ada peluang, misalnya saja tidak akan ada warung makan jika tidak ada orang lapar. Baru setelah itu menemukan masalah, kita membuat product yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Ada tiga hal yang dibutuhkan untuk iiwa-jiwa enterpreneur, mulai dari knowledge (pengetahuan), skill (kemampuan), dan attitude (skip).
3. Contoh Aplikasi program Technopreneur
Dalam buku Technopreneurship (2008) disebutkan, usaha yang meliputi seseorang technopreneur antara lain pengelola yang bergerak dibidang pembuatan hp, smartphone, gedget, laptop, dan alat teknologi canggih lainnya. Marketplace seperti bukalapak dan e-ticketing traveloka juga sering menjadi contoh produk technopreneur, seliain Gojek, tokopedia, shope dan sejenisnya.
Dilevel global, contoh sosok technopreneur sukses antara lain Mark Zuckerberg, Eduardo Saverin, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes merancang dan mengembangkan teknologi jaringan sosial yang berbasis sosial yang berbasis web Facebook. Steve Chen, Chad Herly, dan Jawed Karim merancang dan mengembangkan Youtube sebagai media sosisal berbagi video. Bill Joy merancang dan mengembangkan sun Microsyistem. Bill Gates merancang dan mengembangkan Microsoft. Jeff Bezos merancang dan mengembangkan sistem penjualan buku secara online yang diberi nama Amazone. Di indonesia, sosok yang dikenal sebagai technopreneur antara lain Andrew Darwis (kaskus), Nadiem Makarim (Gojek), dan Achnad Zaky (Bukalapak).[4] Contoh-contoh kegiatan Technopreneurship di Indonesia
a.) GO-JEK
Merupakan sebuah perusahan teknologi asal indonesia yang melayani angkutan melalui jasa ojek. Perusahaan ini didirikan pada tahun2010 di jakarta oleh nadiem makarim. Layanan GO-JEK sudah tersebar luas di seluruh indonesia bahkan di negara tetangga. Fitur layanan GO-JEK ada berbagai macam ada Go-send (pengiriman barang), Go-ride (trasnportasi), Go-food (pesan makanan), dan masih banyak lainnya.
b.) OLX Indonesia
Situs web ini hadir pada tahun 2005 dengan nama tokobagus.com dan merupakan pusat jual beli online terbesar di indonesia yang di kunjungi oleh lebih dari 1.000.000 pengunjung setiap harinya. Pesan iklan gratis adalah salah satu layanan yang di sediakan oleh OLX indonesia untuk para penjual. Dalam melakukan transaksi di OLX Indonesia, baik jual ataupun beli, juga tidak dikenakan biaya.
c.) Tokopedia
Perusahaan yang didirikan oleh william tanuwijaya pada tahun 2009 merupakan salah startup tech yang termassuk kedalam Uniccorn di asia tenggara. Saat ini tokopedia juga menjadi marketplace nomer satu di indonesia
d.) Bukalapak
Sama seperti tokopedia, bukalapak merupakan salah satu marketplace terbesar yang sukses di indonesia. Achmad zaky adalah orng dibalik berdirinya perusahaan sukses ini.
e.) Ruangguru
Beberapa tahun kebelakang, khususnya di tahun 20019 ruangguru sedang gencar-gencarnya promosi besar-besaran di TV. Perusahaan teknologi yang bergerak di bidang pendidikan ini merupakan perusahaan EduTech tersukses dan terbesar di indonesia pada tahun 2020.
f.) Traveloka
Siapa yang tidak pernah melihat iklan dari perusahaan ini di TV. Dengan tagline “Traveloka dulu” ketika ingin memesan hotel dan tiket pasti yang diingat pertama kali adalah Traveloka.[5]
C. Landasan Teori Technopreneurship
Technopreneurship merupakan sebuah inkubator bisnis berbasis teknologi, yang memiliki wawasan untuk menumbuh kembangkan jiwa kewirausahaan di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa sebagai peserta didik dan merupakan salah satu strategi terobosan baru untuk mensiasati masalah pengangguran intelektual yang semakin meningkat. Dengan menjadi seorang usahawan terdidik, generasi muda, khususnya mahasiswa akan berperan sebagai salah satu motor penggerak perekonomian melalui penciptaan lapangan-lapangan kerja baru. Harapan munculnya generasi Technopreneurship dapat memberikan solusi atas permasalahan jumlah pengangguran intelektual yang ada saat ini.
Selain itu juga bisa menjadi arena untuk meningkatkan kualitas SDM dalam penguasaan IPTEK, sehingga mendukung mempersiapkan tenaga handal ditengah kompetisi global. Menurut Ari (2010), Manusia bergerak dari satu ekonomi ke ekonomi yang lain, keunggulan kompetitif juga mengalami perubahan paradigma, bisnis yang ingin terus bertahan dan maju harus memiliki value creation yaitu menciptakan sesuatu yang dianggap bernilai pada saat itu. Perubahan ini membutuhkan teknologi yang berperan sebagai : alat bantu, alat enabler, dan alat transformasi. Perubahan costumer value dan teknologi akibat perkembangan produk/ jasa berbasis teknologi merupakan bussines model implication. Contoh sederhan adalah perkembangan teknologi pada teknologi ensiklopedia yang dahulu menggunakan teknologi alphabet sekarang sudah bertransformasi/ berpindah menggunakan jaringan internet (web browser, HTML, mobile web, search engine, Slashdot postings dll. Teknologi komunikasi dan informasi atau teknologi telematika (Information and communication technology–ICT) telah diakui dunia sebagai salah satu sarana dan prasarana utama untuk mengatasi masalahmasalah aktual serta menjembatani penemuan – penemuan masa depan. Teknologi telematika dikenal sebagai konvergensi dari teknologi komunikasi (communication), pengolahan (computing) dan informasi (information) yang diseminasikan mempergunakan sarana multimedia.
Dunia akademisi saat ini menyadari pentingnya membekali mahasiswanya dengan kemampuan wirausaha sebagai tolak ukur yang paling tepat dan diyakini sekarang sebagai salah satu indikator ukuran penguasaan materi lulusan perguruan tinggi yang menggambarkan seorang mahasiswa mampu mandiri dan menciptakan lapangan kerja sendiri dan tidak berbondong-bondong melamar atau bekerja untuk orang lain, disamping itu hal ini untuk menunjukkan negera kita semakin maju berkembang diukur dari semakin besarnya warganya yang menjadi pengusaha. Kuriikulum Pendidikan Technopreneurship yang diberikan di perguruan tinggi bertujuan untuk mengatasi masalah pengangguran intelektual di Indonesia, menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan menjembatani teori bisnis di perkuliahan dan dunia industry.
Pendidikan technopreneurship di Perguruan Tinggi sangat bermanfaat bagi mahasiswa dalam rangka memberikan alternative profesi yang dapat ditekuni setelu lulus kuliah, memperkenalkan kemampuan teknologi dalam menyelesaiakan permasalahan bisnis, memberikan pengalaman kerja dilapangan, dan juga mempernalkan jaringan mitra bisnis. Sedangkan Manfaat bagi Perguruan Tinggi sebagai fasilitator penyelenggara Matakuliah Technopreneurship adalah :
a. Menjadi bentuk tanggungjawab sosial sebagai lembaga pendidikan untuk berkontribusi dalam mengatasi masalah pengangguran.
b. Menjadi bagian penting dalam upaya menjembatani gap kurikulum pendidikan antara lembaga pendidikan dan industri pengguna.
c. Menjadi salah satu strategi efektif untuk meningkatkan mutu lulusan.
d. Menjadi wahana interaksi untuk komunitas Perguruan Tinggi yang terdiri dari alumni, mahasiswa, dosen, dan karyawan dengan masyarakat umum.
Pengertian Electronic Commerce (E-Commerce) adalah proses transaksi pembelian dan penjualan produk, baik dalam bentuk jasa maupun informasi yang dilakukan secara elektronik memanfaatkan komunikasi komputer, dan salah satu jaringan yang digunakan adalah internet atau berbasis website. Organisasi Perdagangan Internasional (World Trade Organization/WTO) juga memberikan paparan E-commerce adalah produksi, iklan, jual-beli, pengalihan produk/jasa melalui rangkaian telekomunikasi tanpa batas secara Online (internet). Perusahaan Microsoft Coorporation yang mendefinisikan E-commerce sebagai suatu pertukaran barang atau jasa yang memiliki nilai menggunakan teknologi Internet. Media elektronik yang sering dipakai adalah internet. Pemanfaatan internet dipilih karena kemudahan-kemudahan yang dimiliki yaitu Internet sebagai jaringan publik yang sangat besar (huge/widespread network), murah, cepat dan kemudahan akses, dan menggunakan data elektronik sebagai media penyampaian pesan/data sehingga dapat dilakukan pengiriman dan penerimaan informasi secara mudah dan ringkas, baik dalam bentuk data elektronik analog maupun digital. Para pihak yang melakukan kegiatan perdagangan/perniagaan e-commerce hanya berhubungan melalui suatu jaringan publik.
Perberbedaan dengan transaksi biasa, e-commerce memiliki karakteristik yang sangat khusus, di antaranya transaksi tanpa batas, transaksi anonym, produk digital dan non digital, serta produk barang yang dijual tak berwujud. Dalam hal transformasi organisasi, e-commerce mengubah karakteristik pekerjaan, karir, dan kompensasi. E-commerce menuntut kompetensi, komitmen, kreativitas, dan fleksibilitas karyawan dalam beradaptasi dengan setiap perubahan lingkungan yang ramping; bercirikan pemberdayaan dan desentralisasi wewenang, beranggotakan knowledge based workers; mampu beradaptasi secara cepat dengan teknologi baru dan perubahan lingkungan (learning organisation); mampu dan berani bereksperimen dengan produk, jasa, maupun proses baru; dan mampu mengelola perubahan secara strategik. Sedangkan dalam hal redefinisi organisasi, e-commerce memunculkan model bisnis baru yang berbasis jasa Online di marketspace. Hal ini dapat berdampak pada redefinisi misi organisasi dan cara organisasi menjalankan bisnisnya. Perubahan ini antara lain meliputi peralihan dari sistem produksi massal menjadi manufaktur just in time (JIT), integrasi berbagai sistem fungsional (seperti produksi, keuangan, pemasaran, dan sumber daya manusia). Sistem e-commerce memiliki lima subsistem umum, yaitu: Inventory Management System, Profile Management System, Ordering Management System, Shipping/Delivery Management System dan Reporting System Pengertian Content Management System (CMS) atau sering disebut dengan CMS adalah aplikasi web yang berbentuk template untuk mengelola isi web secara mudah. Content Management System tidak memerlukan pengetahuan pemrograman web yang handal karena proses instalasi dan cara penggunaannya sudah user friendly. CMS sendiri ada yang dirancang khusus menyesuaikan kasus yang ada dan biasanya berbayar dan ada yang berupa template instan yang fungsionalitasnya dibuat dengan menyesuaikan pada beberapa proses bisnis yang ada didunia nyata yang dapat digunakan secara gratis. Aplikasi Content Management System instant yang banyak terdapat di internet saat ini kebanyakan dibuat menggunakan scripting language PHP dan database-nya adalah MySQL. Saat ini perkembangan Content Management System cukup pesat, banyak vendor yang membuat CMS instant yang didistribusikan secara gratis. Perkembangan CMS instant ini juga dipicu oleh perkembangan web 2.0 yang memungkinkan interaksi dalam arti yang cukup luas antara pengelola web dan pengunjung web.
Perkembangan pesat Content Management System juga diperkuat oleh kebutuhan masyarakat dan pelaku bisnis yang menginginkan web dapat mendukung kegiatan bisnis mereka secara mudah terutama dalam bidang pengelolaan content, cepat dalam pembuatan web, serta murah dalam pengadaannya. Era saat ini, pengembangan aplikasi web CMS sudah banyak yang menggunakan konsep framework. dengan konsep ini, dimungkinkan memodifikasi fitur Content Management System secara instan karena semua dirancang berbentuk modular.
Dari uraian pengertian CMS tersebut maka CMS memiliki fungsi :
1. Content Making Pembuatan content berita, informasi dan sebagainya dilingkungan CMS adalah mudah, karena bisa dilakukan oleh siapapun tanpa harus mengetahui dasar HTML. Kebanyakan CMS sekarang penulisan contentnya dikembangkan dilingkungan berbasis web, dengan implementasi yang lebih sederhana serta mengijinkan untuk diupdate tanpa harus menghapus dulu.
2. Content Management Satu halaman telah dibuat, maka CMS akan menyimpan halaman tersebut pada tempat penyimpananya. Semuanya disimpan dengan link yang terkait. Pusat penyimpanan juga menyediakan fasilitas untuk mengelola content dengan metode : menjaga traking semua content sehingga bisa mengerahui siapa merubah dan kapan, memastikan masing-masing user hanya punya privasi sesuai dengan haknya, mengintegrasikan dengan system sesuai dengan spesifik kontent tersebut, dan yang paling penting adalah masalah workflow capability.
3. Publication Setelah atikel di terima oleh admin dan direview, tentunya disini admin atau user lain yang biberi privelege juga berhak untuk mengedit kali dirasa semua sudah sesui selanjutnya artikel tersebut akan diapprove maka secara otamatis akan dipublikasikan sesuai dengan kategorinya.
Presentation CMS dapat juga menyediakan penomeran atau berdasar tanggal untuk memindah kualitas dan efektifitas dirinya,sebagai contoh CMS akan membangun navigasi buat kita dengan membaca struktur pengeluaran yang urut dari content yang telah disimpannya. Sehingga akan membantu dalam mempresentasikan Joomla adalah salah satu CMS Opensource yang didesain untuk dapat digunakan multi scope. mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks, bahkan sampai ke level corporate. joomla mudah dalam pengintallan, sederhana dalam memanage dan reliable. Joomla adalah pionir dan terunggul untuk kategori CMS, yang mana akan membantu kita dalam membuat website atau aplikasi online lainya. lebih dari Joomla adalah aplikasi yang opensource gratis yang didesain untuk semua. Joomla digunakan diseluruh dunia, diantaranya Joomla digunakan untuk : Corporate websites or portals, Online commerce, Small business websites, Non-profit and organizational websites, Government applications, Corporate intranets and extranets, School and church websites, Personal or family homepages, Community-based portals, Magazines and newspapers, the possibilities are limitless. Joomla adalah salah satu aplikasi yang digunakan untuk membuat atau membangun sebuah website dinamis yang dilengkapi berbagai fasilitas yang mendukungnya.[6]
D. Inovasi Technopreneurship
Kata “Technopreneurship” merupakan gabungan dari “Technology” dan “Entrepreneurship” yang dapat disimpulkan sebagai proses pembentukan dan kolaborasi antara bidang usaha dan penerapan teknologi sebagai instrumen pendukung dan sebagai dasar dari usaha itu sendiri, baik dalam proses, sistem, pihak yang terlibat, maupun produk yang dihasilkan. Sedangkan Technopreneur merupakan orang yang menjalankan technopreneurship atau sesorang yang menjalankan usaha yang memiliki semangat entrepreneur dengan memasarkan dan memanfaatkan teknologi sebagai nilai jualnya. Istilah technopreneur mungkin sudah banyak diperbincangkan dan sudah mulai dikenal saat ini sejak kemunculannya di banyak surat kabar, majalah, dan televisi disaat teknologi bukan hanya sebagai pendukung kerja saja namun juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan keuntungan.
Menjadi seorang technopreneur jika dilihat dari dua peranan yang dibebankan bagi seorang technopreneur untuk memahami teknologi sekaligus menanamkan jiwa entrepreneurship bukanlah sebuah perkara yang mudah, untuk menjadi seorang technopreneur yang berhasil, setidaknya harus menguasai:
1. Teknologi
Teknologi memegang peranan penting dalam perkembangan dunia modern seperti saat ini, kemunculan teknologi baru secara terus menerus dan penerapan teknologi yang semakin banyak dan menyebar membutuhkan inovasi yang berkelanjutan agar penggunaan teknologi dapat tepat guna dan mencapai sasarannya. Pembelajaran tentang teknologi membutuhkan dukungan dari sumber daya manusia, dalam hal ini bisa dipelajari di universitas atau perguruan tinggi dan perlu adanya kerja praktek yang dilakukan secara rutin. Teknologi merupakan cara untuk mengolah sesuatu agar terjadi efisiensi biaya dan waktu sehingga dapat menghasilkan produk yang berkualitas dengan memperhatikan kebutuhan pasar, solusi untuk permasalahan, perkembangan aplikasi, perbaikan efektivitas dan efisiensi produksi serta modernisasi. Seorang technopreneur tak pernah hanya cukup mempelajari satu atau dua teknologi saja, melainkan harus peka terhadap inovasi teknologi dan dibutuhkan ide kreatif untuk mendukungnya.
2. Entrepreneurship
Entrepreneurship adalah proses dalam mengorganisasikan dan mengelola resiko untuk sebuah bisnis dengan rajin mengidentifikasi dan mengevaluasi pasar, menemukan solusi – solusi untuk mengisi peluang pasar, mengelola sumber daya yang diperlukan, dan mengelola resiko yang berhubungan dengan bisnisnya.
Untuk mengembangkan jiwa entrepreneurship dibutuhkan beberapa tahapan :
a. Internallization adalah tahapan penanaman jiwa entrepreneurship melalui konstruksi pengetahuan tentang jiwa entrepreneurial serta medan dalam usaha. Dalam tahap ini lebih menekankan tentang kewirausahaan dan pengenalan tentang urgensinya.
b. Paradigm Alteration yang berarti perubahan paradigma umum. Pola pikir pragmatis dan instan harus diubah dengan memberikan pemahaman bahwa unit usaha riil sangat diperlukan untuk menstimulus perkembangan perekonomian negara dan jiwa entrepreneurship berperan penting dalam membangun usaha tersebut.
c. Spirit Initiation. Setelah pengetahuan dan paradigma telah terbentuk, diperlukan sebuah inisiasi semangat untuk mengkatalisasi gerakan pembangunan unit usaha tersebut. Inisiasi ini dengan memberikan bantuan berupa modal awal yang disertai monitoring selanjutnya.
d. Competition. Tentunya dunia bisnis tak dapat dilepaskan dari kompetisi dengan para pesaing yang selalu berlomba – lomba dalam menghadirkan nilai tambah dan produk baru untuk bersaing. Seorang entrepreneur harus sigap dalam sebuah kompetisi untuk tidak ketinggalan.
Adapun karakteristik seorang entrepreneur yang harus dimiliki oleh seorang entrepreneur diantaranya :
a. Melakukan hal – hal yang tidak mencari keuntungan semata
b. Merasa nyaman bekerja dengan atau menggunakan teknologi
c. Selalu mengeksploitasi ketidakpastian
d. Penemu bukan semata – mata meniru atau memungut dari alam
e. Tidak berhenti pada peluang, tetapi membangun institusi
f. Seorang yang berani menghadapi resiko
g. Berpikir sederhana
3. Modal utamanya bukanlah selalu uang.
Setelah memiliki jiwa entrepreneurship serta pengetahuan teknologi yang baik, langkah selanjutnya adalah mengintegrasikannya. Contoh perusahaan technopreneurship dan technopreneur dunia yang sudah sangat berhasil diantaranya : Microsoft, Apple, Google, Amazon, dan Twitter. Mereka telah merajai produk komputer dan internet dunia serta dirintis dari nol oleh para pendiri yang memiliki visi jauh ke depan dengan memutuskan menjadi seorang technopreneur.
Dibutuhkan banyak pihak terlibat agar technopreneurship senantiasa berkembang di Negara kita, diantaranya membutuhkan dukungan dari pemerintah sebagai fasilitator, penjamin legalisasi usaha, dan pelindung bagi hak – hak dan produk yang dihasilkan, masyarakat sebagai konsumen juga harus mendukung dengan kecintaan terhadap hasil dalam negeri, perusahaan dengan sumber daya manusia dan berkualitas, bahkan universitas yang paling banyak melahirkan technopreneurship dengan memberikan banyak pelatihan dan pengetahuan bagi calon technopreneurship. Jika kolaborasi dapat dijalankan dengan baik, tentunya dapat menghasilkan technopreneurship tangguh di Indonesia.









Komentar
Posting Komentar